Tuesday, May 16, 2023

Pendidikan Sebagai Proses Kebudayaan

Pendidikan Sebagai Proses Kebudayaan

 Pendidikan sebagai proses kebudayaan menghendaki agar proses belajar-mengajar tidak hanya berorientasi pada pengembangan kemampuan kogitif, melainkan juga kemampuan afektif dan konatif (psikomotorik). Kurikulum pendidikan harus dapat membantu peserta didik untuk belajar mengeluarkan dan mengembangkan daya pikir, daya rasa, dan daya karya,serta daya raga yang sesuai dengan jenjang pendidikan dan tingkat perkembangan peserta didik.

1. Belajar Olah Pikir

Kurikulum pendidikan pertama-tama harus memberi wahana kepada peserta didik untuk mengembangkan kecerdasan inteleknya dengan memiliki pengetahuan mengenai hal-ihwal kehidupan. Ki Hadjar sering menyebutnya sebagai olah "cipta" (pikiran). Tidak cukup sekedar mengetahui, peserta didik juga harus mengembangkan nalar kritis (critical thingking) dan nalar penyelesaian masalah (problem solving), serta memiliki kesanggupan utuk dapat mereproduksi dan mengembangkan pengetahuan dan penalaran tersebut melalui proses penelitian dan pengembangan dalam berbagai bidang dan disiplin Ilmu.

    Untuk itu, kurikulum pendidikan harus memberi perhatian pada pelajaran membaca, menulis, menghitung (matematika), memikir (logika, filsafat), bicara, meneliti, mengenali hukum alam (sains), dan ruang hidup (geografi).

    Pelajaran membaca lebih dari sekedar belajar melek huruf, melainkan sebagai kapabilitas (kemampuan) dasar yang menunjukkan kecakapan fungsional untuk memahami bacaan serta memiliki kebiasaan membaca. Kecakapan dan kebiasaan membaca merupakan kunci utama pembuka ilmu pengetahuan dan pembuka akses pada kemajuan peradaban.

2. Belajar Olah Rasa

Kurikulum pendidikan harus memberi wahana kepada peserta didik untuk mengasah daya-daya afektif yang dapat memperkuat kepekaan estetis, kehalusan perasaan, keindahan budi pekerti, kepekaan empati dan solidaritas sosial, sensitivitas daya spiritualitas, ketajaman rasa keadilan, semangan kebangsaan (nasionalisme), dan gotong-royong.

    Menyoal pentingnya olah rasa ini, Ki Hadjar mengingatkan bahwa "sistem pendidikan pada zaman sekarang terlalu berat pada intelektualisme, kurang memperhatikan keluhuran budi." Penilaian tersebut mungkin menemukan konteksnya yang lebih pas dalam kaitan dengan sistem pendidikan modern yang diperkenalkan pemerintahan kolonial yang memang relatif menonjol dalam pengembangan kecerdasan intelek dan nalar ilmiah. Namun, dalam perkembangan pendidikan Indonesia terkini, timbul kekhawatiran yang lebih dalam. Bahwa pendidikan bukan hanya kurang memperhatikan keluhuran budi, tetapi juga kurang mampu mengembangkan intelektualisme. untuk itu, kuriklum pendidikan harus memberi perhatian pada pelajaran kesenian, moral keagamaan, kesejarahan, budi pekerti (karakter personal) dan pendidikan kewargaan (karakter bangsa), wawasan kebangsaan, dan kemanusiaan.

3. Belajar Olah Karsa

Kurikulum pendidikan harus menumbuhkan kehendak kepada peserta didik untuk mengembangkan kreativitas inovatif dan kecakapan hidup dengan mengenali dan mengaktualisasikan potensi kecerdasannya masing-masing seraya menghubungkan kapabilitasnya itu dengan keberfungsian peserta didik untuk bisa terlibat secara sosial dan berbagai bidang kehidupan.

    Dalam usaha itu, dunia pendidikan harus menghilangkan diskriminasi manusia berdasar jenis intelegensia tertentu yang membuat orang dengan intelegensia lain dianggap sampah masyarakat. Demokratisasi pendidikan harus memberi ruang aktualisasi bagi keragaman ineligensia (multiple-intelligences) manusia, yang meliputi kecerdasar linguistik, logis-matematis, spasial, musik, kinestetis, interpersonal, intrapersonal, naturalis, eksistensial.
(Gardner,1993).
    Orientasi pada pemuliaan ragam inteligensia mengandung konsekuensi bagi dunia pendidikan. Perlu ada perubahan pemahaman terhadap peserta didik. Bahwa sesungguhnya tidak ada manusia (siswa) sampah. yang ada adalah setiap siswa memiliki karakter dan potensi inteligensia yang berbeda-beda.
    Oleh karena itu perlu ada perubahan sistem pengajaran dari class centered school (sekolah berorientasi kelas), menuju individual-centered school (sekolah berorientasi individu). Kurikulum inti (core curriculum) dibuat lebih terbatas untuk memberi keleluasaan bagi incdividu untuk mengambil mata  pelajaran pilihan sesuai dengan minat dan bakatnya.

    Konsekuensinya, fungsi guru bergeser dari peran tradisionalnya. Selain mengajar, guru harus berperan sebagai spesialis penilai untuk memantau potensi dan kecenderungan masing-masing individu siswa; lalu berperan sebagai broker kurikulum yang membantu siswa memilih mata pelajaran. dan sekaligus menjadi broker yang menghubungkan siswa dengan komunitasi yang lebih luas guna menfapatkan pengalaman belajar langsung dari dunia nyata. Akhirnya guru juga harus diberi derajat kebebasan yang lebih besar untuk mengembangkan kreativitas dan inovasinya dalam proses pengajaran.

4. Belajar Olah Raga

Kurikulum pendidikan harus memberi wahana kepada peserta didik untuk mengembangkan ketahanan, ketangkasanm dan kesehatan jasmani, yang diperlukan sebagai sarana fisik untuk mengaktualisasikan daya pikir, dan rasa, serta daya karsa.

Dalam perkembangan kontemporer, pentingnya olah raga lebih dari sekedar untuk kesehatan jasmani. olah raga juga memiliki fungsi kerohanian yang berkaitan dengan pengembangan manusia sebagai homo ludens, dengan menawarkan fungsi kreatif sebagai gaya hidup serta medium penting bagi pengembangan sportivitas, ketahanan mental, keberanian, kerja sama, dan patriotisme.

Dalaman Pandangan Ki Hadjar, pendidikan adlaah proses belajar menjadi manusia seutuhnya dengan mempelajari dan mengembangkan kehidupan sepanjang hidup, yang diperantarai sekaligus membentuk kebudayaan. Sejalan dengan itu, pendidikan harus memberi wahana bagi peserta didik untuk mengenali dan mengembangkan kekhasan potensi pribadinya, sekaligus mengenali dan mengembangkan kebudayaan sebagai wahana pembentuk identitas dan karakter bersama


Referensi : Yudi Latif. (2020). Pendidikan yang Berkebudayaan Histori, Konsepsi, dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif. PT Gramedia Pustaka Utama.