Sunday, December 10, 2023

IDENTITAS MANUSIA INDONESIA

     Setiap manusia Indonesia memiliki tanggung jawab untuk menghargai dan menghayati nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila yaitu Nilai Ketuhanan, Nilai Kemanusiaan, Nilai Persatuan, nilai Kerakyatan, dan Nilai Keadilan. Identitas manusia indonesia menjadi suatu representasi dari keberagaman masyarakat Indonesia, baik keberagaman Suku, Agama, Budaya, mata pencaharian, dsb. 

    Manusia Indonesia merupakan manusia yang berketuhanan. Hal ini bukan merupakan paksaan agar manusia bertuhan, melainkan sudah sejak lama masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang berketuhanan bahkan sebelum terbentuknya negara republik Indonesia. Maka dari itu dalam Ideologi negara Indonesia yakni Pancasila merupakan nilai-nilai yang diambil dari kehidupan berbangsa masyarakat Indonesia sendiri.

Identitas manusia Indonesia kaitannya dengan pendidikan, merupakan upaya untuk memperkuat identitas nasional peserta didik dalam mengembangkan kepribadian sesuai dengan pancasila. pada kurikulum merdeka untuk memperkuat identitas nasional tercakup dalam profil pelajar pancasila. Identitas manusia Indonesia terbentuk dalam suatu proses pembelajaran yang panjang tidak hanya dalam lingkup masyarakat, dan keluarga melainkan pendidikan merupakan lingkup penting untuk memperkuat identitas manusia Indonesia karena di dalam lingkup sekolah diajarkan nilai-nilai yang membangun karakteristik peserta didik.

1. Implementasi Identitas Manusia Indonesia tanda dan simbol di Ekosistem Sekolah tentang penghargaan dan penghayatan terhadap kebhinekaan

Pada saat Praktik Pengalaman lapangan ditandai dengan adanya lambang ideologi negara pancasila, kemudian terdapat aksesibilitas di beberapa tempat bagi penyandang disabilitas, penggunaan seragam sekolah, pelaksanaan demokrasi yakni pemilihan ketua osis dan anggota, pada saat pembelajaraan adanya diskusi yang interaktif saling menghargai antar teman terutama saat memberikan pertanyaan dan jawaban diskusi, terdapat poster yang berisikan motivasi dan himbauan seperti tidak boleh buang sampah sembarangan, menghemat air, jaga kebersihan,dsb.


2. Penghayatan nilai-nilai pancasila di Sekolah untuk menguatkan identitas manusia Indonesia

Pelaksanaan upacara bendera dan hari-hari besar, terdapat ruang khusus ibadah bagi peserta didik yang non muslim, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia raya pada saat jam-jam tertentu, pelaksanaan profil pelajar pancasila dengan tema anti perundungan di liingkungan sekolah, dan gelar karya P5 di hari Pahlawan pada tanggal 10 November 2023. Dalam pelaksanaan pembelajaran penghayatan nilai-nilai terdapat pada proses pembelajaran salah satunya yaitu berdoa sebelum melaksanakan kegiatan pembelajaran dan diakhir pembelajaran. Saling kerjasma untuk membersihkan lingkungan sekolah di hari rabu, menggunakan pakaian adat pada saat kamis pahing. Tidak mendiskriminasi teman yang membutuhkan bantuan atau kekuarangan hal ini tercermin dalam kegiatan kelompok





Tuesday, May 16, 2023

Pendidikan Sebagai Proses Kebudayaan

Pendidikan Sebagai Proses Kebudayaan

 Pendidikan sebagai proses kebudayaan menghendaki agar proses belajar-mengajar tidak hanya berorientasi pada pengembangan kemampuan kogitif, melainkan juga kemampuan afektif dan konatif (psikomotorik). Kurikulum pendidikan harus dapat membantu peserta didik untuk belajar mengeluarkan dan mengembangkan daya pikir, daya rasa, dan daya karya,serta daya raga yang sesuai dengan jenjang pendidikan dan tingkat perkembangan peserta didik.

1. Belajar Olah Pikir

Kurikulum pendidikan pertama-tama harus memberi wahana kepada peserta didik untuk mengembangkan kecerdasan inteleknya dengan memiliki pengetahuan mengenai hal-ihwal kehidupan. Ki Hadjar sering menyebutnya sebagai olah "cipta" (pikiran). Tidak cukup sekedar mengetahui, peserta didik juga harus mengembangkan nalar kritis (critical thingking) dan nalar penyelesaian masalah (problem solving), serta memiliki kesanggupan utuk dapat mereproduksi dan mengembangkan pengetahuan dan penalaran tersebut melalui proses penelitian dan pengembangan dalam berbagai bidang dan disiplin Ilmu.

    Untuk itu, kurikulum pendidikan harus memberi perhatian pada pelajaran membaca, menulis, menghitung (matematika), memikir (logika, filsafat), bicara, meneliti, mengenali hukum alam (sains), dan ruang hidup (geografi).

    Pelajaran membaca lebih dari sekedar belajar melek huruf, melainkan sebagai kapabilitas (kemampuan) dasar yang menunjukkan kecakapan fungsional untuk memahami bacaan serta memiliki kebiasaan membaca. Kecakapan dan kebiasaan membaca merupakan kunci utama pembuka ilmu pengetahuan dan pembuka akses pada kemajuan peradaban.

2. Belajar Olah Rasa

Kurikulum pendidikan harus memberi wahana kepada peserta didik untuk mengasah daya-daya afektif yang dapat memperkuat kepekaan estetis, kehalusan perasaan, keindahan budi pekerti, kepekaan empati dan solidaritas sosial, sensitivitas daya spiritualitas, ketajaman rasa keadilan, semangan kebangsaan (nasionalisme), dan gotong-royong.

    Menyoal pentingnya olah rasa ini, Ki Hadjar mengingatkan bahwa "sistem pendidikan pada zaman sekarang terlalu berat pada intelektualisme, kurang memperhatikan keluhuran budi." Penilaian tersebut mungkin menemukan konteksnya yang lebih pas dalam kaitan dengan sistem pendidikan modern yang diperkenalkan pemerintahan kolonial yang memang relatif menonjol dalam pengembangan kecerdasan intelek dan nalar ilmiah. Namun, dalam perkembangan pendidikan Indonesia terkini, timbul kekhawatiran yang lebih dalam. Bahwa pendidikan bukan hanya kurang memperhatikan keluhuran budi, tetapi juga kurang mampu mengembangkan intelektualisme. untuk itu, kuriklum pendidikan harus memberi perhatian pada pelajaran kesenian, moral keagamaan, kesejarahan, budi pekerti (karakter personal) dan pendidikan kewargaan (karakter bangsa), wawasan kebangsaan, dan kemanusiaan.

3. Belajar Olah Karsa

Kurikulum pendidikan harus menumbuhkan kehendak kepada peserta didik untuk mengembangkan kreativitas inovatif dan kecakapan hidup dengan mengenali dan mengaktualisasikan potensi kecerdasannya masing-masing seraya menghubungkan kapabilitasnya itu dengan keberfungsian peserta didik untuk bisa terlibat secara sosial dan berbagai bidang kehidupan.

    Dalam usaha itu, dunia pendidikan harus menghilangkan diskriminasi manusia berdasar jenis intelegensia tertentu yang membuat orang dengan intelegensia lain dianggap sampah masyarakat. Demokratisasi pendidikan harus memberi ruang aktualisasi bagi keragaman ineligensia (multiple-intelligences) manusia, yang meliputi kecerdasar linguistik, logis-matematis, spasial, musik, kinestetis, interpersonal, intrapersonal, naturalis, eksistensial.
(Gardner,1993).
    Orientasi pada pemuliaan ragam inteligensia mengandung konsekuensi bagi dunia pendidikan. Perlu ada perubahan pemahaman terhadap peserta didik. Bahwa sesungguhnya tidak ada manusia (siswa) sampah. yang ada adalah setiap siswa memiliki karakter dan potensi inteligensia yang berbeda-beda.
    Oleh karena itu perlu ada perubahan sistem pengajaran dari class centered school (sekolah berorientasi kelas), menuju individual-centered school (sekolah berorientasi individu). Kurikulum inti (core curriculum) dibuat lebih terbatas untuk memberi keleluasaan bagi incdividu untuk mengambil mata  pelajaran pilihan sesuai dengan minat dan bakatnya.

    Konsekuensinya, fungsi guru bergeser dari peran tradisionalnya. Selain mengajar, guru harus berperan sebagai spesialis penilai untuk memantau potensi dan kecenderungan masing-masing individu siswa; lalu berperan sebagai broker kurikulum yang membantu siswa memilih mata pelajaran. dan sekaligus menjadi broker yang menghubungkan siswa dengan komunitasi yang lebih luas guna menfapatkan pengalaman belajar langsung dari dunia nyata. Akhirnya guru juga harus diberi derajat kebebasan yang lebih besar untuk mengembangkan kreativitas dan inovasinya dalam proses pengajaran.

4. Belajar Olah Raga

Kurikulum pendidikan harus memberi wahana kepada peserta didik untuk mengembangkan ketahanan, ketangkasanm dan kesehatan jasmani, yang diperlukan sebagai sarana fisik untuk mengaktualisasikan daya pikir, dan rasa, serta daya karsa.

Dalam perkembangan kontemporer, pentingnya olah raga lebih dari sekedar untuk kesehatan jasmani. olah raga juga memiliki fungsi kerohanian yang berkaitan dengan pengembangan manusia sebagai homo ludens, dengan menawarkan fungsi kreatif sebagai gaya hidup serta medium penting bagi pengembangan sportivitas, ketahanan mental, keberanian, kerja sama, dan patriotisme.

Dalaman Pandangan Ki Hadjar, pendidikan adlaah proses belajar menjadi manusia seutuhnya dengan mempelajari dan mengembangkan kehidupan sepanjang hidup, yang diperantarai sekaligus membentuk kebudayaan. Sejalan dengan itu, pendidikan harus memberi wahana bagi peserta didik untuk mengenali dan mengembangkan kekhasan potensi pribadinya, sekaligus mengenali dan mengembangkan kebudayaan sebagai wahana pembentuk identitas dan karakter bersama


Referensi : Yudi Latif. (2020). Pendidikan yang Berkebudayaan Histori, Konsepsi, dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif. PT Gramedia Pustaka Utama.


Wednesday, December 7, 2022

Feminisme dalam konteks Islam

 Bismillahirahmanirahim

Assalamu'alaikum wr.wb.

Salam sejahtera untuk pembaca yang budiaman dan beramal soleh. akhir-akhir ini muncul di benak pikiran seorang mahasiswa yang cukup idealis tentang membangun konsep feminisme. Bagaimana tidak? rupanya mahasiswa tersebut sering membaca informasi dan sumber berita bahwasanya maraknya terjadi kasus penghinaan terhadap perempuan di Indonesia. Agak miris ternyata membacanya ketika seorang wanita di era modern saat ini masih dianggap sebelah mata pada masyarakat umumnya. Maka berawal dari persoalan tersebutlah muncul ide atau gagasan yang mungkin bisa tepat digunakan sebagai acuan dalam menegakkan feminisme di Indonesia. 

Feminisme pada intinya bahwa suatu serangkaian gerakan yang bertujuan untuk memperjuangkan hak-hak wanita mencapai kesetaraan gender baik itu di bidang politik, sosial, budaya, dsb. intinya yah untuk mencapai kesetaraan hak-hak wanita. Namun sejatinya paham-paham feminisme ini berdasarkan pandangan mahasiswa tersebut itu lebih mengarah kepada paham liberal. Mahasiswa tersebut bukannya anti liberal, dia cukup terbuka dengan berbagai paham, akan tetapi faham feminisme barat menurutnya terlalu extrem untuk dapat diterapkan. Hal ini dikarenakan paham tersebut sedikit banyak mengganggu unsur ketauhidan dalam diri seorang insan yang lemah. 

Setelah beberapa lama mengabaikan pikiran idealis, mahasiswa tersebut menemukan buku yang menjawab semua persoalan yang ada di benaknya. Buku itu adalah buku yang ditulis oleh Buya Hamka yang berjudul Berbicara tentang perempuan yang diterbitkan oleh gema insani. Membuka sedikit banyak pengatahuan tentang bagaimana Islam melindungi hak-hak perempuan. 

Sedikit mengulas bahwa dalam buku yang ditulis Prof Hamka tersebut ada perang pikir antara para akademisi islam dan liberal tentang memperlakukan perempuan dalam hal memperoleh hak-hak mereka. dalam paham Islam bahwa telah dijelaskan secara runtut terkait hak-hak perempuan. bahkan sejak jaman jahiliah perempuan tidak mendapatkan haknya sama-sekali. Namun, setelah Islam datang perempuan mendapatkan hak yang setara sesuai dengan kodratnya. Di contohkan dalam buku ini bahwa pada masa zaman jahiliah perempuan di bunuh karena dianggap sebagai aib bagi orang-orang masa itu, setelah Islam datang perubahan pun terjadi bahwa anak merupakan rezeki tidak hanya laki-laki bahkan perempuan pun memiliki hak yang sama. Bahkan di dalam buku ini mencontohkan bagaimana Rasulullah SAW memperlakukan anak-anaknya yang perempuan dengan penuh kasih sayang dan perhatian yang lebih. 

Kemudian, Buku ini juga menjelaskan tentang warisan yang sebelumnya perempuan tidak mempunyai hak sama sekali. setelah Islam datang perempuan memiliki hak waris. Ketika ada perdebatan kembali tentang hak waris perempuan lebih sedikit diterima dibanding dengan laki-laki, hal ini karena sudah menjadi kodratnya bahwa laki-laki memiliki tanggung jawab yang lebih untuk melindungi semua keluarganya sehingga dalam pemahaman mahasiswa bahwa sudah kodratnya laki-laki melindungi dan perempuan yang dilindungi.

Sehingga setelah membaca buku ini dapat tercerahkan terkait dengan konsep feminisme dalam konteks Islam, kesimpulannya bahwa Islam memberikan perlindungan terhadap hak-hak perempuan itu merupakan suatu ketetapan oleh Allah SWT. Sehingga sudah menjadi kewajiban setiap muslim unuk menjalankan hal tersebut, terlepas dari berbagai suguhan konsep tentang hak-hak perempuan yang ada di dunia, perlu adanya kajian-kajian yang meminimalisir terjadinya kegoyahan akan akidah umat Islam sendiri. Ada banyak sebenarnya hikmah yang dapat diambil dari buku tersebut sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan di duniawi. Wallahualam bissawab...






Thursday, November 15, 2018

GENERASI MILENIAL ENGGAN BERPOLITIK

GENERASI MILENIAL ENGGAN BERPOLITIK

Mungkin inilah yang menjadi perbincangan hangat ditengah masyarakat. Tak heran juga apa yang dikatakan generasi millenial sebagian besar yaitu generasi muda ini. Politik sesuatu yang sangat menarik untuk dibahas, karena politik tidak hanya membahas strategi untuk mendapatkan kekuasaan tetapi juga menjadi salah satu cara untuk kita memajukan bangsa Indonesia tercinta ini. Banyak orang awam yang mengatakan Politik itu kejam. Hal ini menjadikan generasi millenial enggan untuk berpartisipasi dalam politik walaupun juga ada yang berkeinginan bergelut didalam bidang politik. Politik kejam entah dari mana asalnya presepsi ini akan tetapi banayak yang mengatakan politik itu kejam yang berasal dari orang yang berada di dalam polotik itu sendiri. Dengan demikian dapatkah kita simpulkan bahwa politik itu memang kejam?. Padahal sebagai generasi penerus bangsa kita diwajibkan untuk berpolitik terlebih lagi kita sebagai seorang muslim. Dapat dikatakan demikian karena sebagai umat muslim harus berpolitik dengan semboyan “ Berjalan di Jalan kebaikan dan meninggalkan Kejelekan”. Berpolitik tidak sekedar kampanye belaka,seperti yang kita tahu orang awam mengatakan politik hanya untuk orang yang berkuasa, maka sebagai generasi Milenial yang bijak kita seharusnya tepis hal itu dan jangan telan mentah-mentah presepsi itu. Semua orang bisa berpolitik itulah presepsi yang saya simpulkan . sebagai contoh saja Ibu rumah tangga juga bisa berpolitik. Bagaimana caranya? Di lingkungan rumah pasti terdapat banyak perkumpulan baik Agama,Sosial,Budaya Dll Ibu rumah tangga juga tak hanya mengurus rumah semata akan tetapi bisa mengikuti kegiatan yang ada dilingkungan sekitar. Contohnya mengikuti kegiatan PKK , kegiatan ini termasuk politik perlu diingat bahwa berpolitik tidak hanya mencari kekuasaan semata. Ibu rumah tangga juga perlu belajar tentang berbagai hal dan tidak hanya mengurus rumah saja dengan ikut kegiatan PKK ini ibu rumah tangga bisa menjadi lebih baik maksudnya waktu yang digunakan jadi lebih efisien serta bermanfaat. Itulah salah satu contoh sederhana berpolitik. Sebagai generasi milenial ini kita seharusnya bisa lebih mempelajari Politik lebih mendalam karena kelangsungan Politik Indonesia tergantung generasi milenial ini . dengan melangsungkan politik kita menjadi lebih tahu sistem perpolitikan di Indonesia lebih mendalam tidak hanya dari suling angin lalu saja yang tidak jelas datangnya dari mana. Akan tetapi karena presepsi salah yang sudah mengakar inilah yang banyak dianut oleh generasi kita. Kita harus sadar dan menyadarkan semuanya untuk mengubah presepsi ini karena presepsi yang salah kaprah ini dapat membahayakan keberlangsungan bangsa kita.
"ini hanya pendapat saya saja sebagai warga negara yang menggunakan haknya pasal 28 E ayat 3". sekian terimakasih
 



Tuesday, October 16, 2018

Puisi Sukses berfaedah



"Sukses"

Kata pertama yang di idamkan semua orang
banyak pengorbanan untuk meraihmu
semua orang sehat menginginkanmu 
tapi...
begitukah ketenaranmu 
berbagai cara manusia menggapaimu
ketika mereka gelap mata akan sinarmu
mereka mencelakai saudaranya sendiri
begitu kejamkah Engkau...?
manusia sering melakukan hal kotor 
hanya untuk meraihmu
begitu gelap mata manusia itu
tak sadar dengan apa yang mereka lakukan
tutup mata dengan orang lain
oh Manusia
Bukalah Hati Nuranimu...